Secuil Kisah Apresiasi dari Old Trafford

Hari minggu lalu saya menyempatkan diri pergi ke Manchester. Bukan untuk menonton konser OneLoveManchester yang diadakan di hari yang sama,  tetapi untuk menyaksikan laga testimonial Michael Carrick di Old Trafford. Saya tertarik untuk menonton laga ini karena Carrick mendatangkan tim MU 2008 yang merupakan komposisi tim MU terbaik yang pernah saya lihat. Mereka memenangi Liga Primier Inggris dan Liga Champions Eropa di tahun itu. Namun, saya tidak akan membahas mengenai pertandingan itu. Saya akan membahas pelajaran remeh yang saya dapatkan hari itu di OT.

Ketika itu, saya duduk di baris terdepan OT sehingga dapat dengan jelas menyaksikan aksi pemain di lapangan hijau. Banyak interaksi yang terjadi antar suporter yang duduk di tribun dengan pemain di lapangan. Namun yang menarik perhatian saya adalah komentar dari suporter MU kepada pemain tim lain, World All Star, lawan MU saat itu. Saat itu, ada John Terry dan Jamie Carragher yang notabene merupakan pemain Chelsea dan Liverpool, rival MU. Setiap mereka mendapatkan bola, OT akan langsung bergemuruh dengan siulan. Namun ketika kedua pemain tersebut melakukan aksi-aksi yang mengundang decak kagum, suporter MU tidak segan untuk memberikan pujian. Suatu ketika, JT melakukan penyelamatan gemilang dan orang di samping saya lantas berkomentar.

“He is f***ing a world class player”

Dari komentar singkat itu, saya menangkap ada pesan apresiatif di dalamnya. Meskipun mereka tidak suka dengan pemain tersebut karena bermain untuk rival MU, mereka tetap mengapresiasi pemain tersebut, apalagi jika permainan yang mereka tunjukkan sangat baik. Mereka objektif dalam memberikan penilaian. Boleh tidak suka dengan seseorang tetapi jika dia berbuat baik, harus diapresiasi.

Kasus ini juga mirip dengan yang saya alami di kampus. Setiap umpan balik dari tugas yang diberikan oleh dosen, pasti akan dimulai dengan hal-hal positif terlebih dahulu. Seburuk apapun tugas saya, pasti dosen tetap akan menemukan sisi positif dari tugas saya dan menuliskannya terlebih dahulu. Bahkan saya seringkali berpikir dosennya lebih banyak memuji dibandingkan menuliskan hal yang perlu diperbaiki haha.

Mungkin terdengar sederhana tetapi menurut saya budaya itu yang masih kurang di Indonesia. Kita terkadang terlalu fokus kepada kesalahan orang lain sehingga tidak mengapresiasi kerja mereka. Budaya apresiatif inilah yang diperlukan untuk mendorong lahirnya ide-ide kreatif yang dapat memajukan negeri. Sudah saatnya untuk berhenti saling menghujat dan menyalahkan. Alangkah lebih baiknya jika kita bisa lebih apresiatif terhadap karya orang lain sehingga bangsa kita jadi bangsa yang lebih produktif.

 

Manchester

June 4, 2017

Advertisements

Tiongkok, Negara dengan Visi Besar

Tiongkok, Negara dengan Visi Besar

Apa yang ada di pikiran Anda ketika mendengar negara Cina/Tiongkok? “Barang murah, kualitas produk rendah, barang tiruan, biaya tenaga kerja murah“. Ya itulah segelintir stigma yang melekat di benak orang Indonesia ketika mendengar negara Tirai Bambu itu. Itu tidak sepenuhnya salah dan tidak pula sepenuh benar. Namun yang pasti, Tiongkok perlahan-lahan sedang bertransformasi menuju era ekonomi berbasis pengetahuan atau knowledge intesive economy. Jika Anda masih meremehkan Tiongkok, siap-siap saja Anda akan terkejut dalam beberapa tahun ke depan.

Great Wall
Perjalanan ke Beijing yang Mengubah Pandangan Saya

Saat ini, saya sedang tertarik untuk membaca atau pun menonton video dokumenter mengenai negara Tiongkok. Saya bahkan sedang mengambil kuliah mengenai knowledge operation di negara BRICS, di mana Tiongkok termasuk di dalamnya. Ketertarikan saya bermula ketika saya berkesempatan berkunjung ke Beijing, ibukota Tiongkok, di tahun 2015. Sebelum berangkat, saya sempat skeptis mengenai negara komunis ini. Meskipun saat itu saya sudah mengetahui jika ekonomi negara ini sedang tumbuh pesat. Namun, kunjungan singkat itu mengubah pandangan saya tentang Tiongkok. Negara itu maju, modern dan yang terpenting mereka punya visi yang besar.

Ya, ternyata setelah saya pelajari lebih lanjut, Tiongkok adalah salah satu negara yang punya visi besar dengan implementasi yang konkret. Setelah sadar akan munculnya negara-negara berkembang yang kompetitif di bidang produksi massal berbiaya rendah seperti Taiwan, Vietnam dan Indonesia, Tiongkok segera menyusun sebuah rencana besar bernama 中国制造2025 atau “Made in China 2025”. Tiongkok seakan ingin menjawab keraguan publik dunia bahwa mereka bisa memproduksi barang yang mempunyai value added tinggi. Di dokumen “Made in China 2025” tercantum jelas 10 industri prioritas Tiongkok dalam satu dekade ke depan, yaitu 1) New advanced information technology; 2) Automated machine tools & robotics; 3) Aerospace and aeronautical equipment; 4) Maritime equipment and high-tech shipping; 5) Modern rail transport equipment; 6) New-energy vehicles and equipment; 7) Power equipment; 8) Agricultural equipment; 9) New materials; and 10) Biopharma and advanced medical products.

Anda tidak salah baca, semua industri tersebut adalah industri berbasis pengetahuan tinggi, bukan lagi industri yang hanya mengandalkan tenaga kerja murah seperti yang selama ini Anda pikirkan. Mereka tidak main-main, beberapa rencana mereka sudah berhasil terimplementasikan. Contohnya, di bidang dirgantara, saat ini Airbus sudah memiliki final assembly line di Tianjin. Boeing juga sedang  bersiap membuka pabrik serupa di Tiongkok. Namun yang paling mengejutkan, Tiongkok saat ini sudah dapat memproduksi pesawat jet komersil sendiri, diberi nama C919, yang ditargetkan terbang perdana di tahun ini.

c919
Comac C919, http://www.ainonline.com/aviation-news/air-transport/2015-11-06/comac-rolls-out-c919-program-timeline-still-uncertain

Tiongkok sangat serius dalam rencana 2025 itu. Mereka tidak hanya membangun industrinya saja tetapi lebih dari itu, mereka membangun ekosistem secara keseluruhan. Pertama, investor Tiongkok saat ini sedang menyasar perusahaan-perusahaan di Eropa untuk diakusisi. Kondisi perekonomian Eropa yang sedang tidak stabil membuat investasi dari Tiongkok sangat diminati. Jika dilihat garis besarnya, investasi ini bertujuan untuk menarik para pekerja terbaik di Eropa ke Tiongkok. Selain itu, mereka juga menyasar paten-paten yang dimiliki perusahaan Eropa. Inilah konsekuensi dari knowledge intensive economy, di mana pengetahuan, baik yang dimiliki pekerja atau dalam bentuk paten, menjadi aset yang paling berharga bagi perusahaan.

Dari sisi tenaga kerja, Tiongkok saya yakin tidak akan kekurangan tenaga kerja ahli di industri berpengetahuan tinggi. Meskipun beasiswa yang disediakan pemerintah Tiongkok tidak banyak, tetapi jumlah mahasiswa Tiongkok yang bersekolah di luar negeri tiap tahunnya terus meningkat. Saya sendiri bisa merasakan bahwa jumlah mahasiswa Tiongkok yang belajar di luar negeri sangat banyak. Di fakultas saya saat ini, lebih dari 40% mahasiswa pasca sarjana berasal dari Tiongkok. Fenomena ini pun terjadi di seluruh universitas top dunia. Namun, yang lebih membuat pemerintah Tiongkok tenang adalah mayoritas pelajar Tiongkok yang telah menyelesaikan pendidikannya di luar negeri lebih memilih kembali ke negara asalnya dengan rasio terbaru 1:1,28.Maka tidak heran jika Tiongkok tidak akan kekurangan tenaga kerja kompeten di industri prioritas mereka.

Selain itu, Tiongkok juga memperlancar rantai pasokan logistik mereka ke luar negeri. Hal ini untuk memudahkan proses distribusi barang-barang yang sudah diproduksi industri dalam negeri mereka. Membangkitkan kembali jalur sutra adalah solusi yang mereka yakini. Jalur sutra ini terdiri dari dua jalur, jalur darat yang menghubungkan Tiongkok, Timur Tengah, Eropa Timur, Eropa Barat hingga Inggris Raya dan jalur maritim yang menghubungkan Tiongkok, Asia Tenggara, Asia Selatan, Afrika dan Eropa Selatan. Jalur sutra ini sendiri sedang berusaha diinisiasi. Bahkan kereta barang pertama dari Yiwu, Tiongkok telah tiba di London, UK di awal tahun ini. Bisa dibayangkan jika jalur sutra ini benar-benar kembali hidup, Tiongkok dapat mendistribusikan barang-barang produksi mereka dengan sangat mudah ke seluruh Asia, Afrika dan Eropa. Bukan tidak mungkin, mereka juga nantinya bisa membangun jalur logisitik ke benua Amerika melalui Laut Bering.

Modern Silk Road
Perbandingan Jalur Sutra, Dulu dan Sekarang, https://historysshadow.files.wordpress.com/2015/04/xinjiang-graphic.jpg

Saat ini, Tiongkok sedang bertransformasi dari negara industrial economy ke negara knowledge economy. Visi besar itupun coba diwujudkan dengan ditopang oleh ekosistem yang mendukung. Inilah yang bisa kita pelajari dari Si Negeri Tirai Bambu, yang katanya sebentar lagi akan menjadi negara dengan GDP tertinggi di dunia. Jadi bagi Anda yang masih sering memandang sebelah mata negara ini, bersiaplah menghadapi kenyataan. Jangan lupa, seperti kata pepatah, tuntutlah ilmu (sampai) ke negeri Cina!

Beda kuliah di Indonesia dan UK

Setelah melawati semester pertama perkuliahan yang intensif, saya mau berbagi cerita mengenai beberapa perbedaan yang saya rasakan ketika kuliah di Indonesia (ITB) dan di UK (Lancaster University). Ada beberapa hal yang menarik dan berbeda dengan kebiasaan kuliah S1 saya dulu. Namun, perbedaan yang saya rasakan ini bisa juga berbeda dengan teman-teman yang studi di universitas lain di UK. Berikut adalah beberapa perbedaan yang saya rasakan.

1. Semua ada di Moodle

Moodle adalah sebuah platform edukasi yang mirip seperti kelas virtual. Di sini, semua dosen menggunakan moodle secara aktif. Semua materi, presentasi kuliah, hingga pengumpulan tugas dilakukan di sana. Tidak ada lagi yang minta presentasi ke dosen memakai USB seperti pada saat kuliah S1. Di ITB ada beberapa dosen yang menggunakan moodle tapi masih secara pasif menurut saya. Namun, sebagian besar belum menggunakan platform ini.

2. Salinan presentasi dan/atau artikel

Meskipun presentasi sudah diunggah ke moodle, tetapi dosen tetap saja mencetak dan membagikan presentasinya di setiap kuliah. Terkadang dosen juga mencetak beberapa artikel menarik dari situs berita di internet untuk dibaca dan didiskusikan di kelas. Jadi, ke kelas modal bawa pulpen saja, nanti bisa langsung corat-coret di salinan presentasi dosen.

3. Ada waktu istirahat

Pertama kali mengikuti kelas di sini, saya heran ketika dosennya menawarkan waktu istirahat. Ternyata, di sini hal yang lumrah untuk dosen memberikan waktu istirahat di tengah kuliah. Mereka sepertinya mengerti jika mahasiswa tidak bisa fokus terlalu lama haha. Waktu istirahatnya biasanya di tepat tengah perkuliahan dan bervariasi antara 5-15 menit.

4. Baca sebelum masuk kuliah

Nah ini mungkin sudah banyak yang tahu desas-desusnya. Kultur ini juga yang sempat saya khawatirkan ketika memutuskan kuliah ke luar negeri. Setelah kuliah di sini, saya bisa bilang kalau ini benar sebagian. Kenapa sebagian? Karena itu bergantung kepada dosennya. Faktanya, tidak semua dosen memberikan dan mewajibkan membaca materi perkuliahan. Dosennya juga tidak akan bertanya di kelas siapa yang sudah membaca. Tapi jika diberikan, sebaiknya dibaca agar lebih paham konteks presentasi dosennya.

5. Berpikir kritis

Ini kultur yang paling saya suka selama kuliah di sini. Orang sini menyebutnya critical thinking. Pada intinya, kita tidak boleh percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh seseorang, meskipun dia adalah dosen kita. Mahasiswa diajarkan untuk selalu bertanya mengapa teorinya seperti ini, apa konteksnya, apa asumsinya yang digunakan atau apa kritik terhadap teori tersebut. Di kelas pun, jika dosen menjelaskan sebuah teori, maka bagian terakhirnya akan selalu diisi dengan kontra terhadap teori tersebut.

6. Referensi dan Plagiarisme

Pada saat kuliah S1 dulu, saya dapat mengerjakan tugas dengan mudah. Buka google, ambil data dan informasi dari berbagai sumber, gabungkan kemudian kumpul. Nah itu tidak bisa dilakukan di sini. Semua yang kita tulis harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sumber data dan informasinya juga harus jelas dan dicantumkan. Tidak boleh juga melakukan plagiarisme pekerjaan orang lain. Turnitin, sebuah software pengecek plagiarisme, bisa memberikan data yang akurat mengenai tingkat plagiarisme tugas kita, bahkan terhadap tugas sendiri yang sudah pernah dikumpulkan. Sebagian besar universitas di luar negeri sudah menggunakan software ini untuk mengecek tugas mahasiswanya.

myUKTrip

myUKTrip

Time flies so fast. I have completed my first term at Lancaster University and now I am already in the second week of the second term at ITMOC program. Just like the other university in the UK generally, I had winter break from the mid-December to mid-January. It was a chance for my friends to celebrate their Christmas and New Year in their home. For me, it was a chance to explore the world. Rather than stuck in my lovely Lancaster, I would prefer to go somewhere else. Despite the temptation to go to Europe’s mainland, I prefer to explore the UK itself first. However, I only visited cities in England and Scotland, since I have another plan to visit the Wales and Nothern Ireland. In this post, I would tell you my impression of each city that I visited.

I started my trip with a familiar city, Manchester. Actually, the purpose was to meet and accompany my tripmate, Antra, who came all the way up from the south. To be honest, there are not many things to see in Manchester, except if you are a football crazy like us. Manchester is well known for their football team, “Manchester United and its noisy neighbour, Manchester City”, said ManUnited fans. So we decided to visit both of their stadiums, Old Trafford and Etihad Stadium.

After that, we went back to Lancaster to prepare our trip to the north. Yes, Scotland is my next destination. After three hours train rode to the north, we arrived in Glasgow. My first impression about Glasgow is metropolitan. Indeed, it is the business city of the Scotland. We arrived there at night, many people in the street and many shops were still open. But the most surprising fact for me is Glasgow even has its own subway. Although the only have one circle line, the subway has been operated for 120 years, as old as the tube in London.

img_2841-2
Chilling at the UoG Cloister

The next city is Edinburgh, the capital of Scotland. I really like this artsy city. It has its own character that you could not find anywhere else. This hilly city offers a gorgeous view of building with ancient architecture. My friend who studies in Edinburgh told me that the old city of Edinburgh is buried under the current city, however, not all the people is allowed to access it.

img_3026
Edinburgh at its best

My third and final city of Scotland is the UK’s or even Europe’s oil capital, Aberdeen. To be honest, I did not have any chance to explore the city itself. My friend took us to the Dunnotar Castle, which is located a one-hour bus ride from Aberdeen in a small city called Stonehaven. We ate one of the best fish and chips in the UK and ice cream in the middle of rainstorm haha. But Aberdeen itself is not very big, my friend told me. There is one long straight street called Union Street where you could find anything you want, the same as Oxford Street in London.

whatsapp-image-2016-12-20-at-5-46-58-pm-1
My fav photo at Dunnotar Castle, taken by Antra

After that, I had 18 hours journey to the southern beach of England where I spent my next 3 days. Brighton, or famous as the city of gay, was an interesting experience. I did not see a lot of gay couples though in the street, however, I saw one couple on the bus and it made me shock enough.Despite that creepy moment, I would say I like my stay in Brighton. A wonderful beach with a precise city planning around the coastal area. The royal pavilion is also very unique with its Indian style architecture located in the middle of the city.

img_3105
View from the Brighton Pier

During my stay in Brighton, I also managed to visit Portsmouth, another city in the southern part of England. This city is famous as the centre of UK’s naval industry during the war period. It was one of the most heavily fortified places in the UK or even in the Europe because of its strategic industry. Unfortunately, I didn’t enjoy this city very much due to Barbara storm that hit all over UK. Nonetheless, the city museum is the most exciting part of my trip. There is a game section in the city museum where you could play console game from the most antique one such as Atari until the brand new console such as PlayStation 4.

img_3269
The best museum ever! Inframe: Antra is playing PS1

One of the world’s capitals of finance, London, is my next destination. I stayed in London for more than one week until the New Year. I went to numerous attraction in London including the museum such as British National Museum and Natural History Museum, universities such as Imperial College London and University College London and the iconic Big Ben. I also visited the Greenwich which is known as the centre of the world time system. Greenwich area itself offered a lot of attraction such Cutty Sark Museum, Royal Observatory and the Emirates Aviation Experience.

img_3515
In front of Cambridge University
img_3589
One of the college in Oxford University

Oxford and Cambridge that located around an hour train ride from London is the next city that I visited. Both cities are known for their legendary university, Oxford University and Cambridge University. Unfortunately, I went there during the holiday period between the Christmas and New Year so that both universities was closed at that time. However, I still managed to capture some great pictures of the university. To be honest I was amazed when visited both cities. In my thought before came, due to its legendary university, both cities would be like an old ancient city. It turned out the other way around. Both cities looked modern, just the same with any other city, however, they still kept the original architecture in the university area. Many tourists came to both cities just to visit those influential teaching institutions.

Last but not least, I want to say thanks to all my friends whom I met during the trip. Antra, Ajeng, Fany, Mba Ing, Aul, Uno, Hafsah, David, Nia, Dissa, Aan, Brian, Delvira, Mbak Devi, Mas Puji, Senja. I really enjoyed #myUKTrip because of you guys. Hope we could see each other soon.

Cheers!

Refleksi 2016

Tidak terasa tahun 2016 telah berlalu. Tahun 2016 adalah tahun yang istimewa buat saya. Banyak pengalaman baru yang saya alami dan tentunya memperluas wawasan saya.

Tahun ini dimulai dengan Persiapan Keberangkatan (PK) LPDP. Mendengarkan secara langsung tokoh-tokoh hebat negeri ini menaruh harapan kepada kami itu sangat berat secara mental. Namun, berkumpul dan berinteraksi bersama orang-orang hebat dari berbagai penjuru Indonesia selama PK membuatnya terasa lebih mudah. Pengalaman yang sangat menarik dan berharga buat saya.

img_6181
PK-51 LPDP “Svara Bumiputera”

Di tahun ini pula saya harus meninggalkan Bandung, si kota penuh inovasi. Lima tahun tinggal di Bandung bukanlah waktu yang sebentar tapi kenangannya akan membekas terus di hati. Dari Bandung saya belajar bahwa kita tidak harus selalu melihat ke luar negeri untuk menemukan sebuah inovasi yang kreatif.

 

img_0097
Berpakaian tradisional Jepang di Osaka Museum Housing and Living

 

Selain itu, saya diberikan kesempatan untuk berkunjung ke Jepang untuk kali kedua. Kali ini bukan hanya Tokyo saja, Osaka (dan Kyoto) juga sempat saya kunjungi. Meskipun ini kunjungan kedua saya, masih banyak hal baru yang saya rasakan ketika ke sana. Tapi satu hal yang pasti, Jepang tidak pernah mengecewakan ekspektasi saya. Semoga saya bisa kembali lagi ke sana.

 

img_2058
#iamlancaster

 

Momen terbaik di tahun ini tidak lain dan tidak bukan adalah saya pindah ke Britania Raya untuk melanjutkan studi. Saya harus mengakui, ini merupakan salah satu mimpi terbesar saya sejak 2007.Tinggal ribuan mil dari tanah kelahiran demi mengejar ilmu. Dan di tahun 2016, saya akhirnya bisa mewujudkannya. Memang pada akhirnya, hasil tidak pernah mengkhianati usaha.

Oke, saatnya memulai 2017 dengan merancang mimpi besar lainnya. Selamat tahun baru!

 

London, 1 Januari 2017

Webinar bersama Ibu SMI

Minggu lalu, seluruh awardee dan alumni LPDP di berbagai penjuru dunia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti webinar bersama “ibu kandung” LPDP. Ya benar, tak lain dan tak bukan, Ibu Sri Mulyani Indrawati, Menteri Keuangan RI. Saya tidak ingin menjelaskan panjang lebar isi webinar tersebut. Tulisan ini akan berisi beberapa ucapan Ibu SMI yang saya sempat catat karena sangat menarik buat saya. Tulisan ini juga saya buat sebagai pengingat buat diri saya sendiri.

  • Never underestimate your attitude. If one small bad attitude is embodied in citizens of a country, it can cause a big problem. A good attitude is an asset to a country.
  • Jika kita pencundang, negara kita menjadi pecundang.
  • Anda adalah anak dari republik yang diperlakukan dengan sangat precious, but with a privilege comes a responsibility.
  • Anda adalah aset dari negara yang tak ternilai
  • People said that the sky is your limit, but for me, the sky is not your limit
  • Your job is to bring value and wisdom to our country
  • Anda akan selalu menang jika punya pride, dignity, integrity
  • Datang disambut, pulang ditangisi, itulah indikator Anda melakukan hal yang benar.
  • You owe something from this republic!
  • Be generous to your country, not only proud
  • Make them impress with your personality, attitude, academic excellence, that’s how you give back to your country
  • Saya titip Indonesia hari ini dan ke depan kepada Anda.

Terima kasih Ibu SMI sudah menyempatkan waktu menemui awardee LPDP di sela-sela kesibukan kunjungan ke Belanda. Pesannya bakal diingat terus, Bu!

ITO16

Judul tulisan ini adalah salah satu kode mata kuliah yang saya ambil semester ini.  ITO16 atau Enterprise System Architecture sejatinya adalah kuliah pilihan yang saya ambil semester ini. Mata kuliah ini sangat berkesan bagi saya. Bukan hanya karena ilmu yang saya dapatkan, tetapi juga karena proses pembelajarannya.

Awalnya saya mengambil kuliah ini karena sangat tertarik dengan konten kuliahnya yang membahas mengenai penerapan IT di organisasi. Pada saat proses pemilihan, Sian, staf akademik program ITMOC, telah meningatkan jika kuliah baru dimulai di minggu ke-4 karena dosennya datang dari luar Lancaster. Yang satu tinggal di India, yang lain mengajar di UBC, Kanada. Sampai di titik ini saja saya sudah tertarik mengetahui dosennya datang dari luar kampus.

Namun hal yang lebih mengejutkan terjadi ketika jadwal kuliah tersebut keluar. Kuliah yang seharusnya berlangsung selama 10 minggu dijadikan hanya 2 minggu. Artinya, saya harus mengikuti kelas mata kuliah tersebut setiap hari selama 2 minggu.

Tidak hanya itu, cara kuliahnya pun unik. Akibat dosen yang mengajar berasal dari luar Lancaster, ada beberapa sesi yang akan berlangsung melalui kelas virtual. Menarik sekali buat saya karena saya baru pertama kali merasakan cara pembelajaran seperti ini. Di Indonesia proses belajar mengajar yang saya alami melalui cara konvensional yaitu tatap muka di kelas.

 

screen-shot-2016-11-09-at-4-05-41-pm
Kelas virtual bersama Mike Chiasson

 

Pelajar utama yang saya dapatkan di kelas ini bahwa teknologi dapat sangat membantu proses pembelajaran. Selama ini saya termasuk orang yang agak pesimis ketika mendengar kelas virtual. Namun, setelah melakukannya sendiri, saya rasa ini sangat menarik dan menyenangkan. Hal ini juga dapat membantu proses pembelajaran dengan menghilangkan batas ruang sehingga kita dapat belajar dari siapapun di dunia ini, di manapun dia berada.

Thank you, Paul,and wish the best for your project wherever it is!
Thank you, Mike, get well soon and looking forward to meeting you in person next year!